Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Jumat, 26 Agustus 2016

Khoirul Anwar tegaskan dirinya bukan penemu 4G

Beranda UKM P3M UNIB

Dr. Khoirul Anwar tampak di Gedung Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta, 8 Desember 2010.
Dr. Khoirul Anwar tampak di Gedung Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta, 8 Desember 2010.
© Jacky Rachmansyah /Tempo

        Akhir 2014, dunia teknologi Indonesia ramai membicarakan Khoirul Anwar. Doktor berusia 38 tahun itu ramai disebutkan sebagai penemu teknologi Long Term Evolution (LTE) atau yang biasa disebut 4G.
            Khoirul, yang bekerja sebagai asisten profesor di School of Information, Science Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST), kemudian mengklarifikasi kabar tersebut. Memang ia berkontribusi dalam pengembangan teknologi 4G LTE namun bukan secara keseluruhan.
           Sebenarnya, dalam sebuah catatan di blog pribadinya pada Desember 2014, Khoirul pernah menyatakan bahwa ia bukanlah penemu 4G LTE. "Saya tidak menulis sebagai penemu 4G LTE karena 4G LTE sendiri seharusnya memang tidak ditemukan, melainkan disepakati. Forumlah yang menyepakati teknik tertentu untuk dipakai atau tidak dipakai dalam sebuah standard," tulisnya. Agar lebih jelas, pria kelahiran Kediri, Jawa Timur, itu lalu mengulang kembali seperti apa tepatnya kalimat yang diucapkannya dua tahun lalu itu.

            "Yang saya sampaikan saat ditanya wartawan adalah bahwa yang saya kerjakan adalah prinsip/konsep dasar dengan dua Fast Fourier Transform (FFT) berpasangan, dan ini 'dipakai' dalam 4G uplink," kata Khoirul kepada KompasTekno, Rabu (16/3/2016).
"Dimulai sekitar 2010-2011, saat 4G belum terkenal. Yang jelas saya bilang bahwa saya menemukan konsep dua FFT. Dan ternyata 4G system di masa depan menggunakan konsep dua FFT juga," tambah Khoirul seperti dikutip detikINET.

                Jadi temuan konsep dua FFT yang dipakai dalam teknologi 4G LTE, sering diartikan secara umum oleh orang awam bahwa Khoirul Anwar sebagai 'penemu' 4G LTE.
Teknologi LTE sendiri terdiri dari banyak komponen. Dan kurang tepat jika menyebut 4G LTE itu 'ditemukan', lebih tepatnya 'disepakati' oleh badan standarisasi internasional bernama 3rd Generation Partnership Project (3GPP).
             Di 3GPP terdapat dua orang perwakilan Indonesia yang juga tidak membenarkan kabar tersebut yakni Dr. Basuki Priyanto, Master Researcher di Sony Mobile Communications AB, dan Dr. Eko Onggosanusi, Direktur Riset Samsung Research Amerika. Keduanya berpendapat, konsep dua FFT tersebut sudah dipublikasikan pada 2002. Sedangkan Khoirul mematenkan konsep pemakaian dua FFT pada 2005, Paten US 7804764 B2.
"Jadi, seorang penemu skema FFT yang berbeda dari sebelumnya tak bisa mengklaim bahwa penemuannya telah atau akan diapakai untuk LTE," ujar Basuki dan Eko ke KompasTekno (16/3).
            Khoirul menanggapi pendapat tersebut ke detikINET dengan mengatakan, "Konsep dua FFT ini baru dan paten granted serta menjadi standar international ITU. Karena kalau tidak baru kan harusnya tidak lolos patent dan tidak menjadi standard."
Ia membuktikan bahwa temuannya berbeda dengan menurunkan rumus berkali-kali sampai menjadi standar International Telecommunication Union (ITU) dan tidak ada lagi tinjauan ulang dan protes.
              Menurut Khoirul protes dalam dunia penelitian merupakan suatu hal yang biasa terjadi. Untuk pembenaran, sang peneliti harus kembali menjabarkan perumusan masalah hingga dapat dibuktikan bahwa temuannya bersifat baru.
Konsep dua Fast Fourier Transform (FFT)
               Konsep dua Fast Fourier Transform (FFT) adalah teknik modulasi sinyal dari gawai ke base station yang dapat menghemat baterai dengan pemakaian daya rendah. FFT masuk menjadi sebuah standar 4G LTE namun tidak mewajibkan untuk selalu diterapkan.
Pemakaian dua FFT adalah salah satu cara untuk mengimplementasikan komponen Orthogonal Frequency Multiplexing (OFDM) dalam spesifikasi 4G LTE. OFDM adalah metode modulasi sinyal yang memungkinkan transfer data berkecepatan tinggi 4G LTE, dalam hal pemancaran sinyal dari base station ke gawai (downlink). Untuk arah sebaliknya, dari gawai ke base station (uplink), dikenal metode Single Carrier-Frequency Division Multiple Access (SC-FDMA) yang merupakan modifikasi dari OFDM dengan penambahan FFT, sehingga mampu menghemat pemakaian baterai.


sumber:https://beritagar.id/artikel/sains-tekno/khoirul-anwar-tegaskan-dirinya-bukan-penemu-4g

Beranda UKM P3M UNIB / Author & Editor

0 komentar:

Posting Komentar

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Distributed By Gooyaabi Templates